Senin, 28 Maret 2016

Fan Fiction (Muvon Band)

Mysterious Boy




#True
Sore itu Naya pergi menemai mamanya ke salah satu butik langganan mamanya. Butik langganan mamanya itu ada disalah satu mall terbesar di kotanya. Saat Naya dan mamanya berjalan menuju butik tersebut, Naya melihat Rangga sedang duduk sendiri di dalam café
“mama ke butik duluan aja deh, Naya mau ke café itu sebentar” Naya menunjuk café yang dimaksudnya
“ya udah deh, tapi nanti nyusul ya”
“iya mama” mama berjalan meninggalkan Naya. Naya mulai bergerak mendekat ke arah café tersebut. Ia terus memperhatikan Rangga dari jauh, dari tadi Rangga terus mengecek ponselnya. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Sekitar 10 menitan Naya memperhatikan Rangga dengan seksama. Tidak berapa lama muncullah seorang gadis cantik berambut pendek dengan poni tengah, gaya rambut seperti Dora. Gadis itu sangat cantik sekali hingga membuat Naya minder. Naya terus bertanya-tanya dalam hati. Siapa gadis itu? Apakah dia pacar Rangga? . Rangga dan gadis itu mulai beranjak keluar dari café, buru-buru Naya pergi mencari tempat untuk sembunyi. Ia sembunyi dibalik penjual ice cream. Naya terus memperhatikan gerak-gerik mereka berdua, Naya terus melangkah tanpa memperhatikan sekelilingnya. Brukkkk…… ia terjatuh, ada sesorang yang entah sengaja atau tidak menabraknya
“aduhh kalau jalan pake….” Lelaki itu tidak meneruskan perkatannya setelah ia mengetahui bahwa yang ia tabrak adalah Naya
“hah…. Ajunnnnn” Naya teriak kesal, gara-gara insiden ini Naya kehilangan Rangga dan gadis itu. Mata Naya terus mencari-cari sekeliling, namun sayangnya ia kehilangan Rangga dan cewkenya (mungkin)
“loe kenapa sih? Dati tadi pelanga-pelongo. Loe kecopetan ya?” Ajun menguncang-guncangkan bahu Naya. Dengan cepat Naya menepis tangan Ajun yang sangat mengganggu pandangannya.
“gagal deh rencana gw dan itu gara-gara loe” Naya melotot dan menuding Ajun. Kemudian ia pergi. Ajun mengikutinya.
“hehh…tunggu-tunggu. Rencana apa sih?”
“gw lagi mata-matain Rangga dan gara-gara loe gw kehilangan dia, puas loe?”
“hahahahaha” Ajun tertawa sangat kencang hingga beberapa orang menoleh pada mereka berdua. Naya langsung membekap mulu Ajun ketika ia menyadari bahwa banyak mata yang melihat mereka berdua.
“loe bisa diem enggak sih, kalau ketawa di control dong. Norak banget sih loe” Naya menjauh dari Ajun
“jadi sekarang loe udah mulai jadi detektif?”
“kenapa? masalah?”
“ya enggak sih”
“barusan gw lihat Rangga jalan sama cewek, tapi gw gak tahu itu pacarnya apa bukan”
“ya jelas pacarnya lah, ngapain ia pergi sama pacar orang lain”
“loe pernah lihat ceweknya Rangga?” tanya Naya menyelidik
“pernah, waktu itu gw sama Rendy gak sengaja ketemu Rangga sama ceweknya di jalan. Mereka lagi boncengan, ceweknya meluk dia gitu. Pokonya mesra banget” Ajun membayangkan kejadian itu
“rambutnya pendek?”
“ya gw gak tau lah, kan dia pake helm”
“iya juga sih ya, cantik gak? sama gw cantikan mana?”
“yaaa…jelasss.. gw gak tau lah” Ajun meringis. Ekspresi Naya berubah, ia memelototi Ajun yang cengengesan sedari tadi
“gimana sih loe, kan loe udah pernah lihat itu cewek. Pastinya bisa bedainlah cantikan yang mana”
“kan gw lihatnya tampak dari samping jadi mukanya gak begitu kelihatan jelas”
“ampun deh jun” Naya menepuk jidatnya dan pergi meninggalkan Ajun. Ngobrol sama Ajun malah membuat Naya semakin pusing, dia sama sekali tidak membuat pencerahan hanya membuat semuanya semakin rumit dan berantakan. Naya menyusul mamanya ke butik langganannya. Ia masih merasa kesal, coba saja kalau tadi Ajun tidak menabraknya ia pasti akan tahu kalau cewek itu benar-benar pacar Rangga atau bukan.
Malam ini  Naya tidak bisa tidur meski ia sudah mencoba memejamkan matanya. Ia masih kepikiran masalah tadi sore. Kalau benar cewek itu pacarnya Rangga, Naya kan harus move on dari si cowok itu. Rangga memang cowok yang misterius, ia tidak bisa ditebak. Sikapnya juga bisa berubah-ubah. Kadang ia menjadi cowok pendiam yang kerjaannya mojokdi perpustakaan kampus, kadang juga ia jadi cowok yang super duper gokil. Malam semakin larut, namun mata Naya masih juga membandel. Ia mencoba mengirim pesan pada Adit
Send to : Adit
Dit, tadi sore gw lihat Rangga sama cewek kayaknya pacarnya deh.
Namun pesan dari Naya tidak juga dibalas oleh Adit. Sepertinya Adit sudah tidur, Naya terus menunggu balasan dari Adit hingga tak terasa ia mulai mengantuk.
Paginya Naya mengecek ponselnya, ada satu pesan  
From : Adit
            Sorry nay, semalem gw udh tidur. Iya mungkin ceweknya. Loe buntutin dia enggak?
Dengan enggan Naya meletakkan kembali ponselnya dan bergegas mandi karena hari ini ia kuliah pagi. Ia merasa kurang fit pagi ini karena ia baru bisa tidur sangat larut sekali. Dengan malas ia berangkat ke kampus. Untungnya jalanan hari ini tidak macet, kalau sampai macet mood Naya bisa benar-benar berantakan. Sesampainya diparkiran kampus ia melihat Adit sudah datang dan duduk di atas montor gedenya. Melihat Naya datang, Adit langsung berdiridan menghampiri Naya yang keluar dari mobilnya.
            “nay, serius loe kemaren ngelihat mereka?” tanya Adit menggebu-gebu
            “iya, sayangnya gw gak bisa buntutin mereka. Gara-gara ada si tukang onar nabrak gw” Naya dan Adit melanjutkan perbincangan sambil berjalan
            “siapa, tukang onar itu gangguin loe. wah…. Kurang ajar banget tuh orang” ketika mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba mereka dikejutkanoleh Ajun yang mengejutkan mereka dari belakang
            “loe tanya siapa tukang onarnya dit?”
            “iya, gw pingin tahu. Kurang ajar banget dia gangguin temen gw”
            “nih…orangnya” kata Naya sambil memencet hidung Ajun. Ajun mengaduh kesakitan dan susah bernafas. Ia menepis tangan Naya  dari hidungnya
            “hehhh kirain” Adit menghela nafas panjang.
            “kalian lagi ngomongin apa sih?” tanya Ajun penasaran
            “biasa, Mr R” jawab Adit berbisik
            “ohhhh”
            “eh nay, loe lihat muka ceweknya dengan jelas?” tanya Adit kembali pada pembicaraan awal tadi
“iya, gw jelas banget ngelihat mukanya” kata Naya sangat antusias. Adit terlihat sibuk mencari sesuatu di ponselnya. Naya dan Ajun terdiam melihat Adit, mereka menantikan apa yang sedang Adit cari.
“nih, kayak gini bukan?” Adit menyodorkan ponselnya pada Naya
“iyaaa” kata Naya terbelalak melihat foto yang ada di posnel Adit
“coba-coba lihat” Ajun merebut ponsel dari tangan Naya. Ia kebingungan foto siapa ini
“ kan, gw sama Ajun bener. Udah deh loe move on aja. Suka sama cowok orang itu gak baik lho” Adit menepuk pundak Naya dengan halus dan menasihatinya. Naya terlihat sangat shock.
“heh cuy, ini foto siapa?” Ajun masih mengamati foto itu dan ia belum tahu siapa gadis yang ada di ponsel Adit
“itu ceweknya Rangga” bisik Adit pada Ajun. Ajun pun juga terkejut. Ia kemudian  memeluk Naya yang masih terlihat Shock
“puk..puk.. for Naya” Ajun masih memeluk Naya. Naya mencoba melepaskan diri dari pelukan Ajun
“apaan sih loe, ganggu tauu” Naya langsung pergi meninggalkan Ajun dan Adit yang tampak bengong. Ternyata mereka berdua benar, kalau Rangga sudah memiliki pacar. Naya harus mencoba menghapus perasaannya pada Rangga. Adit benar menyukai cowok yang sudah memiliki pacar itu tidak baik. Hari ini kehidupan Naya sangat buram, ia sedih ternyata semua itu benar. Ia bertekad kalau mulai hari ini ia akan belajar melupakan Rangga. Meskipun itu jelas sangat sulit baginya.
(bersambung)

Minggu, 27 Maret 2016

Runaway

            

BAB 2
“senang bisa melihat mu tumbuh menjadi gadis cantik yang mengagumkan” kata bibi Eliz sambil memeluk dan membelai lembut rambut Jessy yang terurai panjang. Pelukan dan belaian lembut bibi Eliz justru membuatnya sedih, biasanya ia dapatkan semua itu dari ibunya.
            “terimakasih karena bibi mau menerimaku” Jessy mencium punggung tangan bibi Eliz seperti yang ia lakukan ketika mencium tangan ibunya.
            “maaf bibi Eliz, maukah anda menceritakan apa hubungan kau dan ibu?” Jessy melepaskan pelukan bibi Eliz dan memandangnya dengan wajah sayu.
            “ibu mu adalah istri adikku, sayangnya adikku bukanlah pria yang baik untuk ibumu” bibi Eliz menjelaskan
            “apa? Jadi ayah ku adalah adik bibi? Jessy sangat terkejut mendengar penjelasan dari bibi Eliz. Selama ini Jessy sangat membenci  ayahnya. Bagaimana tidak, ketika usia 5 tahun ayahnya tiba-tiba pergi begitu saja dan tidak pernah kembali pada Jessy dan ibunya. Padahal ibu Jessy selalu memperlakukan ayahnya sangat baik, meskipun ayahnya sering memarahi ibu namun ibu tidak pernah sekalipun meninggalkan ayah. Sedangkan ayahnya yang mendapat perlakuan baik justru pergi begitu saja dan tidak pernah mengunjungi Jessy dan ibunya. Untung ibu Jessy adalah wanita yang kuat, ia bahkan bekerja banting tulang demi kehidupannya dan Jessy, anak semata wayangnya.
            “bibi tahu sayang, kalau kamu sangat membenci ayahmu. Tapi sejujurnya ayah mu sangat mencintai mu dan juga ibu mu”
            “tapi mengapa ayah meninggalkan kami bibi? Apa salah kami?” tangis Jessy pecah, ia merasakan sakit hati yang dirasakan ibunya. Ia juga sangat kecewa dengan perlakuan ayahnya.
            “bulan lalu, ibumu mengirim surat kepada bibi. Kalau suatu hari nanti kamu akan datang kemari. Dan ibu mu meminta bibi agar kamu dipertemukan dengan ayahmu. Ibumu hanya ingin menunjukkan padamu bahwa ayahmu tidak sejahat seperti yang kamu pikir Jessy. Ia sangat merindukanmu”
            “lalu dimana dia?” Jessy melihat ke sekeliling rumah berharap kalau ayahnya ada disana, ia ingin sekali bertanya alasannya meninggalkan ibu dan dirinya. Namun tampaknya ayah tidak tinggal di rumah bibi Eliz. Bibi Eliz melihat perilaku Jessy yang Nampak sedang mencari-cari sosok ayahnya.
            “ayahmu tidak ada disini Jessy. Ayahmu tinggal di desa seberang” kalimat bibi Eliz membuat Jessy kaku terdiam.
            “sudah malam, kamu istirahatlah. Bibi janji besok akan membawamu kepada ayahmu” Bibi Eliz membantu Jessy membawa barang bawaannya dan mengantar Jessy ke kamar yang telah disediakan oleh bibi Eliz. Malam terasa sangat dingin di pedesaan. Jessy tidak dapat tidur karena berada di lingkungan baru. Ia sudah tidak sabar ingin pergi menemui ayahnya esok hari. Apakah wajah ayahnya masih sama seperti dulu? Apakah ayahnya masih bisa mengenali anaknya yang satu ini?. Jessy berusaha menepis pikiran-pikiran negatif yang ada dikepalanya. Ia berusaha untuk memejamkan matanya di malam yang sangat dingin ini.
*****
Jessy melihat pemandangan dari dalam cendela kamarnya. Indah, sejuk, membuat hati terasa sangat damai, pantas saja penduduk disini sangat betah tinggal di tempat ini. Setiap pagi mereka selalu disambut dengan keadaan alam yang sangat indah ini, sehingga hati dan fikiran mereka menjadi sejuk. Jessy keluar kamar menghampiri bibi Eliz yang sedang sibuk di dapur kecil miliknya. Bibi Eliz tinggal sendiri di rumah ini. Suaminya, paman Sam sudah meninggal 5 tahun yang lalu dan kedua anaknya tinggal di desa seberang.
“selamat pagi bibi” Jessy berjalan menghampiri bibi Eliz. Ikut membantu bibi Eliz memasak. Aroma masakan bibi Eliz sangatlah nikmat, perut Jessy langsung berbunyi keroncongan. Bibi Eliz tersenyum, senang ia memiliki teman dirumah ini. Selama ini bibi Eliz selalu menghabiskan waktu seorang dirinya, anaknya Deep dan Hans membantu ayah Jessy yang tinggal di desa sebelah. Terkadang setiap akhir minggu mereka berkunjung ke rumah bibi Eliz.
“makanlah, pasti kamu sudah sangat lapar kan?” kata bibi Eliz sambil berjalan ke meja makan menghidangkan masakan yang sudah matang.
“iya bibi, ayo makan bersama” Jessy menikmati masakan bibi Eliz, rasanya nikmat sekali.
“besok salah satu anak buah ayahmu akan pergi kemari untuk mengambil beberapa bahan makanan yang sudah dipesan, namanya Chad. Kamu bisa menumpang Chad untuk pergi menemui ayahmu. Bagaimana?”
“anak buah ayah? Memang ayah kerja apa bi?” tanya Jessy penasaran

“besok kamu akan tahu sendiri sayang, sekarang kamu beristirahatlah dulu. Badanmu pasti masih sangat lelah” Jessy mengangguk tanda setuju. Rasa penasaran semakin menyelimuti Jessy, ayah yang selama ini tidak pernah bisa ia temui. Besok setelah sekian lama akhirnya ia bisa bertemu dengan ayahnya yang sudah lama mencampakkannya dan ibunya. Jessy bahkan sudah menyiapkan kata-kata untuk bertanya alasan ayahnya meninggalkan dirinya dan juga ibu begitu saja. Selama satu hari ini Jessy menghabiskan waktu untuk membantu bibi Eliz mengerjakan pekerjaannya, bibi Eliz banyak bercerita tentang kehidupannya yang kini hidup bagai sebatang kara tanpa suami dan anak, bibi Eliz juga menceritakan kehidupan ayah Jessy setelah meninggalkan Jessy dan ibunya. Jessy sangat beruntung memiliki bibi sebaik bibi Eliz, padahal sebelumnya Jessy sempat berfikiran negative tenatng bibi Eliz. Bibi Eliz berulang kali menyatakan perasaannya yang sangat bahagia karena akhirnya ia bisa bertemu dengan keponakannya lagi setelah sekian lama.
(bersambung)

Jumat, 25 Maret 2016

Runaway


BAB 1
2 tahun terakhir ini Jessy hidup sebatang kara, ibunya meninggal karena sakit yang dideritanya yaitu tumor otak. Jessy mencoba untuk bertahan hidup, mencari pekerjaan kesana kemari, di usir dari rumah yang sudah 3 tahun ditempati bersama ibunya karena tidak dapat membayar uang sewa. Sampai akhirnya Jessy menyerah dengan keadaan ini. Ia membuka selembar kertas yang diberikan oleh ibunya sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
“Kediaman bibi Eliz. St. Alford 20B, Graivel”
Hanya itu tulisan yang ada di selembar kertas itu. Dengan uang yang seadanya, Jessy memberanikan diri untuk pergi ke alamat yang sudah diberikan oleh ibunya. Jessy sama sekali tidak mengenal siapa itu bibi Eliz, apakah ia saudara ibunya? Atau tempat tinggal sahabat ibunya? Atau justru pemilik panti asuhan yang siap menampung Jessy? Berbagai pertanyaan timbul dibenaknya. Jessy mencoba untuk berfikir positif, siapapun itu bibi Eliz pastilah dia orang yang baik. Mana mungkin ibunya tega menyerahkan anak semata wayangnya ini kepada orang yang jahat. Jessy tahu ini pasti pilihan terbaik yang sudah dipilih ibunya sebelum ia meninggal. Pemandangan yang sangat indah dan mengagumkan selama perjalanan membuat hati Jessy menjadi tenang, sebelumnya ia tidak pernah melihat hamparan padang rumput yang sejuk nan indah, serta hamparan ladang yang dipenuhi dengan orang-orang yang sibuk menggarap lading milik mereka. Jessy baru tersadar bahwa perjalanan ini membawanya ke suatu tempat yang berbeda dari tempat tinggal sebelumnya. Sebuah perkampungan. Itu yang ada dipikiran Jessy. Entahlah perkampungan atau perkotaan yang jelas tempat ini bisa menerima Jessy dengan baik dan dapat merubah sedikit hidupnya. Jessy termenung menatap foto  mendiang ibunya, ia tidak menyangka bahwa selama ini ibunya merahasikan penyakit yang dideritanya dari Jessy. Ibunya adalah seorang dokter disalah satu rumah sakit besar dan ternama di kota, jadi ia pasti sangat memperhatikan kondisi kesehatannya. Namun ternyata itu semua salah, menjadi seorang dokter bukan berarti bisa bebas dari penyakit yang sangat menyakitkan hingga merenggut nyawanya. Tanpa terasa air mata Jessy mengalir di kedua matanya. Jessy merasa sangat tak berguna, ia merasa sangat bodoh karena selama ini tidak mengetahui bahwa ibunya sangat menderita akibat dari penyakit yang diderita. Ia merasa belum bisa menjadi anak yang baik untuk ibunya, padahal selama ini  ibunya sangat sabar dalam mengurus Jessy. Jessy melihat keluar cendela, ia berharap ibunya sudah bahagia ditempat yang baru.
******
Perjalanan yang sangat melelahkan membuat kondisi Jessy sedikit kurang sehat, ia keluar dari kereta yang ditumpanginya dengan lunglai. Tempat yang baru dan orang-orang yang baru. Ia merasa sangat asing berada di kota ini. Ia berjalan dan tampak kebingungan. Perutnya sangat lapar, terakhir ia makan kue yang dibelinya sesaat sebelum kereta berangkat, setelahnya ia hanya menenggak air yang dibawanya.  Jessy berputar putar menjelajahi stasiun itu. kemana aku harus pergi? tanyanya dalam hati. Perasaan takut mulai menguasai tubuhnya, sebelumnya ia belum pernah melakukan perjalanan sendirian. Jika pergi ke tempat yang jauh ia pasti bersama ibunya. Tapi kali ini ia pergi ke temapt baru tanpa siapapun yang menemani, ditambah dengan uang yang hanya tersisa sedikit sekali.
“ada yang bisa saya bantu nona?”seorang lelaki tua menepuk pundak Jessy yang membuatnya sangat kaget dan takut. Seulas senyum yang tercetak jelas diwajah lelaki tua itu membuat  hati Jessy lega. Semoga lelaki itu adalah orang yang baik dan dapat membantu.
“hmm…. Bisakah tuan memberitahu saya kemana saya dapat pergi?” Jessy memberikan secarik kertas yang berisikan alamat kepada lelaki itu dan mencoba bersikap seramah mungkin denga orang baru.
“jelas sekali saya tahu, saya kenal baik dengan nyonya Eliz. Dia adalah orang yang sangat baik, dia sering sekali memborong hasil pertanian saya dengan harga yang pas” penjelasan lelaki tua ini membuat hati Jessy sangat lega.
“bolehkah tuan mengantar saya kealamat itu? Tapi maaf saya tidak punya banyak uang untuk membalas jasa tuan” kata Jessy malu-malu
“tenang saja, tidak usah khawatir. Saya akan mengantarkan nona ke rumah nyonya Eliz. Kebetulan saya juga ingin mampir untuk  mengambil keranjang saya yang masih tertinggal disana. Mari saya antar. Perkenalkan nama saya Demian” kata tuan Demian sambil mengulurkan tangannya pada Jessy
“senang berkenalan dengan anda tuan Demian, saya Jessy” balas Jessy sambil menjabat tangan tuan Demian. Lega, senang, merasa beruntung semua campur aduk di hati Jessy. Ia sangat beruntung bisa bertemu dengan orang baik seperti tuan Demian yang rela mengantarkannya ke rumah bibi Eliz.
“apakah anda keponakan nyonya Eliz?”
“iya, saya keponakan bibi Eliz yang datang dari kota” Jessy berharap ia memang benar-benar keponakan bibi Eliz yang datang dari kota. Tuan Demian rupanya sangat asyik ketika diajak mengobrol, selama perjalanan tuan Demian terus menceritakan hal-hal yang menyenangkan di pedesaan ini. Tempat yang menurutnya paling nyaman dan damai. Semua penduduk disini sangat ramah dan mereka sama sekali tidak pernah bermasalah, jika memang ada masalah pastilah mereka akan menyelesaikannya dengan jalan kekeluargaan. Mendengar cerita dari tuan Demian, Jessy semakin yakin bahwa ia akan betah tinggal ditempat ini  selama-lamanya. Semoga saja.
Kendaraan yang tuan Demian dan Jessy tumpangi berhenti pada sebuah rumah kecil yang terlihat indah dan nyaman. Tuan Demian mengetuk pintu rumah itu, dan beberapa saat kemudian muncullah seorang wanita setengah baya yang masih terlihat cantik dan sangat keibuan.
“permisi nyonya, maaf malam-malam begini saja berkunjung. Saya hanya ingin mampir sebentar dan mengambil keranjang milik saya” sapa  tuan Demian dengan sopan
“dan ini saya juga mengantar keponakan anda” lanjut tuan Demian yang kemudian menyuruh Jessy untuk menampakkan dirinya. Sedari tadi Jessy bersembunyi dibalik pintu, perasaan khawatir mulai menghinggapinya. Ia menunggu respon dari bibi Eliz, apakah ia mengenalinya atau tidak. Wajah bibi Eliz sedikit menerka-nerka siapa gerangan gadis kota yang dibawa tuan Demian yang mengaku sebagai keponakannya ini. Senyum mulai mengembang diwajah bibi Eliz, tanpa berkata apa-apa bibi Eliz langsung memeluk Jessy. Jessy sangat lega. Itu artinya bahwa bibi Eliz mengenalinya, meskipun ia sama sekali tidak tahu siapa itu bibi Eliz. Mendengar namanya saja sama sekali tidak pernah, ia tahu nama bibi Eliz hanya dari surat yang ditulis ibunya.
(bersambung) 






Selasa, 17 November 2015

Music


Geisha “Tak Seimbang”

Impian para personel Geisha Band untuk berkolaborasi dengan musisi legendaris, Iwan Fals akhirnya terwujud. Single yang berjudul "Tak Seimbang" yang diciptakan oleh Roby (gitaris Geisha) menjadi single duet pertama bersama sang musisi legendaris Iwan Fals. Mungkin masih banyak orang yang belum mengetahu bagaimana lagu tersebut, yang pasti kolabarasi di antara musisi-musisi handal ini pasti bakalan menarik perhatian pencinta musik tanah air. Selain dengan Geisha, ternyata Iwan Fals juga berkolaborasi dengan Noah, Nidji, dan juga D'Masive. Kita tunggu saja karya-karya keren mereka. 

Lirik "Tak Seimbang"

Tak Seimbang
                                                                                                   Geisha ft Iwan Fals
(Momo)
Diam ku hanya sanggup terdiam
Disaat kau menghilang
Menyimpan seribu kenangan
Terisak-isak suara tangisku melawan kenyataan
Habis upayaku.
Senyuman terakhir itu, pecahkan syaraf sadarku
          (Iwan Fals)
Reff : aku harus bagaimana? berjalan tanpa kamu
apa dayaku? beri aku kesempatan untuk memelukmu lagi
Peluk mu lagi….
(Momo)
Sulit teramat sulit jalan ku melawan takdir ini sendiri tanpamu,
(Iwan Fals)
Senyuman terakhir itu pecahkan saraf sadarku
(all)
Reff : aku harus bagaimana  berjalan tanpa kamu
apa dayaku ? beri aku kesempatan untuk memelukmu lagi
Peluk mu lagi….
(Momo)
 (Entah harus bagaimana ku tanpa mu)
(Momo)
Reff : aku harus bagaimana  berjalan tanpa kamu
apa dayaku ?
(Iwan Fals)
beri aku kesempatan untuk memelukmu lagi
Peluk mu lagi….
(all)
Reff : aku harus bagaimana  berjalan tanpa kamu
apa dayaku ? beri aku kesempatan untuk memelukmu lagi
Peluk mu lagi….
(Iwan Fals)
Kini aku tak seimbang
(Momo)
tak sanggup menggantikan mu
(all)
dengan yg lain
(Iwan Fals)
menggantikan mu
(Momo)
dengan yg lain





Jumat, 13 November 2015

I'm Sorry, Baby (Cerbung)


“ki’ loe tau cowok yang disana gak?” kata Salsa
          “yang mana sa?” jawab Oki sambil celingukan mencari-cari cowok yang dimaksud Salsa
          “itu yang pake kaos putih sama jaket biru dongker” kata Salsa sambil menunjuk-nunjuk
ke orangnya
“Alan?”
“ya gw gak tau lah siapa namanya”
“iya, yang itu kan. Namanya Alan, dia satu angkatan kok sama kita” jawab Oki
“ohh…Alan” kata Salsa senyum-senyum  dan pergi meninggalkan Oki
“anehh loe sa” teriak Oki
          Gw bener-benerr merasa jatuh cinta pada pandangan pertama ke Alan, setiap saat dimana pun Alan  berada gw selalu mengikuti langkah Alan engggak di kantin, perpustakaan, gazebo, lab.musik pokoknya gw selalu ngikutin kemana pun Alan pergi. Bahkan gw pernah browsing cara menjadi stalker yang baik dan tidak mudah ketahuan.  Gila ya gw, gw bener-bener dimabuk cinta sama si Alan.
          “tiap  hari loe selalu ngikuti Alan pergi, kenapa loe gak  kenalan aja sama dia?” kata
Dania
“hah? gila loe mana gw berani. Lagian gw kan cewek masak iya gw yang ngajak kenalan
duluan” kata Salsa mantap
“hello…. Ini udah tahun 2015 udah modern, gak masalah lagi kalok cewek yang ngajak kenal duluan”
“gw setuju sama Dania sa’, kalok loe diem-diem terus kayak gini, kapan loe bisa deket sama Alan?” sahut Oki
“ya.. iya sih tapi kan aneh aja gitu, kesannya gw yang agresif”
“jangan dengerin mereka sa, loe gak perlu ngajakin Alan kenalan duluan. Entar yang ada si Alan malah sok kegantengan. Jangan jadi cewek yang murah dong” sahut Nita yang tiba-tiba datang
“yahhh…. Mak lampir datang” kata Dania dan Oki bersamaan
          Omongan dari Nita ada benernya juga sih, kita sebagai wanita jangan murahan biar cowok-cowok itu gak seenaknya sama kita tapi kalok gw jual mahal kapan gw bisa deket sama Alan? Malam ini yang ada di pikiran gw cuman omongan orang gila yang tadi siang gw dengerin, tapi omongan merekabertiga ada benernya juga. Arrgghhhh gw pusing, tapi gw buat target kalok minggu ini gw harus bisa sekedar kenalan dan say hai sama Alan. Masalah minta nomer hp, pin bb itu lain kali aja.

*****
          Paginya seperti biasa, gw masih asyik ngikutin kemana si Alan pergi. Hari ini dia mau ke lab.musik,  gw sembunyi dipohon apalah gw gak tahu, yang  penting bisa buat ngumpet, pas lagi asyik-asyiknya ngintip tba-tiba ada orang yang ngagetin gw
          “dorrr…”
          “hah? sialan loe. Bikin gw kaget aja” kata gw sambil melotot ke itu orang
          “gw selalu ngamatin loe dari jauh-jauh hari. Loe ngapain sih suka  ngintipin temen gw?
loe suka sama dia? tanya cowok itu
“ehh, siapa sih loe. Gak usah sok tau deh. Minggir…minggri ” kata gw beranjak pergi
dari tempat itu
“loe gak mau dapet banyak info dari gw nih?”
“gak penting”
“ehh…tunggu. Woy “ teriak cowo itu yang kemudian mengejar langkah gw.  Gw
percepat langkah gw, malu banget pas lagi ngintipin eh malah ketahuan. Gw terus lari, eh cowok itu malah semakin kenceng aja ngejar gw
          “loe… gw tangkap” katanya sambil megang tangan gw
          “loe apaan sih, lepasin gw”
          “loe cewek psikopat ya? gw udah sering banget lihat loe ngikutin si Alan kemanapun dia
pergi. Gw takut aja kalok tiba-tiba loe celakain si Alan”
“ya enggakmungkinlah, kalok gw cewek psikopat, gw gak mungkin bisa lulus SMA dan
bisa kuliah disini. Lepasin tangan gw, gw ada kuliah nih” kata gw
“oke, gw lepasin”
“thanks”kata gw sambil lari
“eh tunggu.. tunggu”
“apalagi sih?” teriak gw
“Alan itu udah punya cewek, jadi loe gak bisa deketin dia” kata cowok itu sambil pergi
Whatt?? Ini serius? Alan udah punya cewek? Jadi selama ini usaha gw sia-sia banget dong.
“gw bilang juga apa, makanya jadi cewek itu gak usah sok jual mahal. Nangis kan loe
sekarang” kata Dania ke gw dengan muka sok serius
“ihh… jahat banget sih loe dan, gw kan lagi patah hati”
Patah hati? Ya iyalah mana ada sih cewek yang gak sakit hati kalau tahu cowok yang dia suka ternyata udah punya cewek. Berhari-harigw nyoba buat move on dari Alan dan mulai menyebar pandangan ke segala arah buat nyari cowok yang lebih keren dari si Alan. Tapi gimana mau move on, sekarang tiba-tiba Alan ada dimana-mana. Gw ke kantin dia ada, di perpustakaan dia ada, di parkiran dia ada dan parahnya lagi dia selalu sama ceweknya. Mana ceweknya lebih cantik dari gw kan bikin bête.
“gw balik ya guys” kata gw ke temen-temen
“tumben banget loe jam segini mau balik” kata Nita
“ya ampu nit, loe tahu kan kalok Salsa lagi bete bawaannya pingin pulang terusss”sahut
Oki
“ya udah deh, pulang sana. Hati-hati jangan ngebut loe” kata Dania
“iya iya, gw balik ya. Bye”
Gw jalan cepat ke parkiran, pas sampek depan mobil, gw lihat ada orang yang mengendap-endap awalnya sih gw diemin aja tapi ternyata dia pencopet. Pencopet itu mau ngambil tas salah satu mahasiswidi kampus gw, reflek gw langsung teriak “Malingggg……….” dan sialnya pencopet itu berhasil ngambil tas mahasiswi itu. Setelah teriakan gw tadi banyak gerombolan anak-anak cowok yang langsung ngejar pencopet itu salah satunya ada temennya Alan yang gw gak tau siapa namanya. Lega rasanya, paling enggak gw bisa sedikit bantu dengan teriakan gw tadi haha. Gw langsung tancap  gas baru beberapa meter keluar dari gerbang kampus gw lihat ada gerombolan anak-anak cowok yang ngejar pencopet tadi, mungkin mereka lagi asyik ngehakimin si pencopet pikir gw. Gw jalan pelan-pelan sampai akhirnya ada Dio teman sekelas gw yang nyuruh gw berhenti
“ada apa di’ ?” tanya gw penasaran
“loe gak lagi  buru-buru  kan?” katanya panic
“enggak kok, kenapa sih?”
“bantuin si Boy ya, bawa dia kerumah sakit. Tangannya kena pisau milik pencopet tadi.
Dari tadi darahnya keluar terus. Gw khawatir kalok dia kenapa-kenapa” katanya ngos-
ngosan
“oh gitu, ya udah ayok. Mana anaknya? Kita ke rumah sakit deket kampus aja”
Gw ngeri lihat darah yang terus keluar dari  tangannya,  gw langsung ambil syal dang w iket tuh tangan pake syal biar darahnya gak keluar terus. Gw langsung ngebut, gw takut kalok lukanya semakin parah dan malah infeksi kan bahaya banget tuh. Maklum bokap gw dokter dan sering cerita penyakit yang macem-macem dari hal yang sepele dampaknya bisa sampai parah banget jadi gw sering parno sendiri.
“loe semua santai aja, gak usah panic. Lukanya biasa kok” kata cowok yang ternyata
namanya Boy
“gila ya loe,  itu luka parah banget. Kalok loe kehabisan darah trus meninggal di dalem mobil gw gimana? Kan gw juga yang bakal di interogasi sama polisi. Terus kalok pas malem-malem gw pulang sendiri ntra kalok loe tiba-tiba muncul gentayangan gimana? Kan gw juga yang repot” kata gw yang terus nerocos
          “Sa’ loe gak usah lebay gitu deh” kata Dio santai
          “gw bukannya lebay cuman lagi memikirkan hal yang terburuk Dio”
          “udah deh mending loe nyetir aja dulu. Ngomongnya diterusin entar. Kan gak lucu kalok
ntar kita nabrak abang tukang bakso di deket perempatan” kata Boy yang sok ngelucu

*****
          Malam ini malam minggu dan hari yang paling menyedihkan selama hidup gw, gimana enggak. Semua temen-temen gw punya pacar dan gw? Cowok yang gw suka aja malah udah punya cewek. Mana malam ini gw dikosan sendiri pula, ya iyalah orang yang lainnya pada pacaran. Gw mondar-mandir gak jelas, nonton TV pindah-pindah chanel tapi acaranya gak ada yang asyik. Buka laptop mau nonton film tapi bosen, semua film yang gw punya udah jelas pernah gw tonton berulang-ulang kali sampek gw bener-bener hafal gimana jalan ceritanya. Gw lihat jam masih jam 8 masak iya gw mau tidur, kayak anak bayi aja jam 8 udah tidur. Akhirnya gw memutuskan untuk pergi keluar mencari udara segar, sekalian menyebar pandangan siapa tahu ada cowok kece dipinggir jalan kan bisa gw masukin karung trus gw bawa pulang tuh *upss, bercanda*. Di dalem mobil biar gak sepi gw nyalain music dan lagu yang lagi ngeplay lagunya Ed Sheeran-Thinking Out Loud, gw langsung bayangin kalok aja ada cowok yang nyanyiin lagu ini buat gw, ngenes banget  sih gw. Mobil gw melaju tanpa arah sampai akhirnya berhenti di mini market, berhubung gw juga pas lapar. Pas gw masuk gw  liat temennya Alan yang tangannya dibacok sama copet, gw samperin deh tuh orang
          “hay.. tangan loe gimana? Udah sembuh?” tanya gw
          “ehh..loe. gw kira siapa. Ya lumayanlah, nunggu lukanya kering kok”
          “hmmm.. bagus deh kalok gitu”
          “loe sendirian?”
          “iya nih, temen-temen gw lagi pada pacaran. Nge-betein banget”
          “hahaha… loe? loe jomblo kan? Makanya bete”
          “gw gak jomblo yaa. Gw SINGLE, catet tuh”
          “Single? Terus udah berapa album yang loe keluarin”
          “ihh nyebelin banget sih”
          Mulai dari situ lama-kelamaan gw semakin akrab dengan Boy. Dari obrolan-obrolan yang sama sekali gak penting gw makin tambah deket sama Boy. Dari situ gw tahu kalok Boy itu cowok yang apa adanya, dia gak jaim, baik, dan okelah menurut gw. Kita juga sering smsan, bbman, jalan bareng. Bahkan temen-temen gw ngira kalok gw sama Boy udah jadian. Temen-temen gw juga bilang kalok Boy lebih keren dari pada si Alan. Gw lihat-lihat iya juga sih, dilihat dari fisiknya badan Boy lebih atletis dari si Alan. Setelah sekitar 2 bulan gw pedekate sama Boy, akhirnya Boy ngungkapin perasaannya sama gw tapi dia gak ngungkapin secara langsung dia cuman bilang lewat telefon. Awalnya gw ragu, tapi Dania bilang kalok gw terus-terusan ragu mau kapan gw bisa punya pacar.
          “oke, kita jalanin dulu ya Boy” kata gw dalam telefon
          ”jadi, maksudnya aku diterima nih?” kata Boy semangat
          “hmmmm…. Iyaaa”
          “horeeeee….” Suara Boy dibalik telefon
          “haloo… Salsa ini gw Putra temennya Boy. Thanks ya udah mau nerima temen gw yang
gak sempurna ini. Jangan bikin dia galau-galau ya soalnya diaudah terlalu lama galau” kata nya
Ternyata temen-temennya Boy lagi pada kumpul di rumah Boy, jadi ada banyak orang yang tahu kalok gw sama  Boy pacaran. Bodoo amat lahh,yang penting sekarang gw udah gak jomblo-jomblo lagi. Temen-temen gw seneng banget pas tahu kalok akhirnya gw sama Boy jadian, apalagi si Nita yang gak tega lihat gw selalu menjadi orang gila dadakan kalok pas malam minggu. Gw juga seneng kalok temen-temen gw restuin hubungan gw sama Boy. Hari-hari yang gw lalui setelah punya pacar sekarang jadi beda. Dulu gw selalu sendirian kalok ke kampus, sekarang gw selalu dijemput sama Boy, trus hp  gw juga gak sepi lagi. Gaya pacaran gw sama Boy gak lebay kayak anak-anak SMA kok  hahaha. Kita tetep asyik, bisa jadi orang tua, sahabat, guru, pokoknya kita saling berbagi pengalaman deh.  

(Bersambung...)